Selasa, 13 Oktober 2015

ANALISIS BIOMEKANIKA PADA GERAKAN MENENDANG BOLA DALAM SEPAKBOLA.

C. ANALISIS BIOMEKANIKA PADA GERAKAN MENENDANG BOLA DALAM SEPAKBOLA.

1. Analisa secara anatomi
Anallsa secara anatomi berarti membahas tentang gerakan tubuh manusia yang meliputi otot-otot dan persendian serta tulang-tulang. Dalam menendang anggota tubuh yang menjadi penggeran utama adalah anggota gerak bagian bawah yaitu tungkai. Sedangkan gerakan tangan hanya berayun untuk menjaga keseimbangan dan keserasian gerak. Akan tetapi tetap saja berkontraksi, terus hingga pada saat menapakkan kaki kiri tangan kiri diangkat seenaknya ke depan sedikit dengan ketiak terbuka dan tangan kanan berada di belakang.
Pada saar ancang-ancang, persendian bergerak dimulai dari fleksi dari persendian lutut dan panggul serta angkel kaki kanan yang terangkat ke atas. Sedangkan pada saat melurus di kaki kiri terjadi eketensi panggul, lutut dan engkel yang memberikan tolakan. Demikian seterusnya hingga pergantian langkah kaki.
Ketikan kaki kiri berhenti, maka akan terjadi penahanan berat badan pada kaki kiri, yang didukung oleh otot-otot hamstrings, quadriceps, gluteus dan gastronocmeus. Berat badan akan ditanggung seluruhnya oleh kaki kiri. Kaki kiri dalan menahan berat badan sedikit dibengkokkan agar mendapatkan jangkauan kaki kanan pada bola. Sehingga perkenaannya sesuai dengan yang diinginkan. Pandangan sebelun tendangan dikonsentrasikan ke bola sedangkan ketika hampir menyetuh bola lihatlah sasaran yang akan dituju.
Pada saat menendang bola dengan kaki kanan maka poros pertama persendian terdapat pada sendi pinggul. Lutut sedikit fleksi yang digerakkan oleh kelompok otot-otot hamstring yang juga ikut mengambl ancang-ancang dan sendi engkel lurus ekstensi yang dikontraksikan oleh otot-otot betis. Pada saat pergerakan menarik kaki tendang dari belakang yang bertugas adalah otot illiacus, anterior sup. Illi spine, tensor fasciae latae atau kelomponk quadricep extensor bagian froximal. Sedangkan saat ekestensi lutut digerakkan oleh rectus femoris, vastus medialis, vastus rateralis atau kelompok quadricep bagian distal.
Pada saat gerakan follow trough, otot-otot rileks dan menapakkan kaki seenaknya sebagai gerakan lanjutan untuk menghindari resiko cidera.

2. Kinematika Angular
Dalam melaksanakan tendangan bola dalam sepak bola akan kita jumpai perpindahan badan dari satu posisi ke posisi lain dimana terdapat perubahan kecepatan yang diwujutkan pada langkahan kaki. Kinematika angular kita jumpai pada sendi bahu yang menayunkan lengan seenaknya dan persendian pada panggul saat mengangkat kaki kedepan dan pada sendi lutut pada saat melangkahkan kaki untuk mendapatkan jangkauan kaki ke depan.
Pada gerakan ini rotasi pada sendi pinggul dapat mencapai satu putaran penuh (3600) dari mulai lepasnya kaku belakang dari tanah kemudian diayun keatas sehingga terjadi fleksi pada lutut, ayunan ke depan hingga sampai ke belakang kembali.
Ancan-ancangan ina bertujuan untuk memperoleh kecepatan saat berlari hingga tiba di sisi bola yang dapat memberikan dukungan terhadap kekuatan.
Ayunan pada sendi elbow tidak memiliki sumbangan yang begitu baik untuk mendapatkan kekuatan tendangan hanya saja mengatur kestabilan tubuh.

3. Kinematika Linier
Rentang kaki tendang yang dimulai dari belakang hingga benturan dengan bola atau hiperekstensi, jika ditarik sudut yang berporos pada sendi pinggul sekitan 450, kemudian rentang sudut dari poros fleksi lutut mencapai 900. Sehingga jika digabungkan rentangan secara keseluruhan mencapai 1350. Perkenaan kaki dengan bola merupakan ajang terpenting menghasilkan kekuatan. Disini terdapat perpanjangan ruang gerak kaki yang dimulai dari persendian pinggul ang dilanjutkan dengan persendian lutut. Tentunya dengan ruang gerak inilah yang akan membangkitkan kecepatan pergerakan kaki dan akan dapat lebih meudah memperolah kekuatan kontraksi ototnya. Perpaduan kecepatan dan kekuatan inilah yang biasa disebut dengan power. Dengan demikian pulalah bahwa menendang bola dibutuhkan power otot-otot tungkai.
Kemampuan kaki belakang akan dapat membentuk sudut yang lebih besar, jika kelentikan pada sendi pinggul cukup besar. Tangan ddalam hal ini hanya menjaga keseimbangan, dimana lengan kiri terangkat hingga sejajar dengan nahu yang merupakan kerja dari otot deltoid dan persendian glenohumeral. Tangan kanan kelihatan akan kebelakang sebagai upaya menjaga keserasian gerak dan koordinasi.
4. Kinetika Angular
Pada saat menendang bola akan kita jumpai poros persendian yang memungkinkan terjadi pada kinetika angular. Jalannya bola tergantung gaya yang diberikan oleh tekanan kaki. Kuat tidaknya tergantung pada gaya yang diberikan oleh kaki.
Selain gaya dalam hal ini tergantung pada percepatan ayunan kaki yang baik. Percepatan ini tentunya didukung oleh kemampuan otot-otot. Pergelangan kaki degerakkan hingga posisi benat-benar ekstensi sehingga punggung kaki benar-benar berada di depan dan tentunya akan terdapat benturan pada bagian ini.
Tidak ada bagian lain yang dapat menunjang kekuatan tendangan, hanyalah kemampuan membangkitkan power yang cukup besar. Dimana persendian pinggul sebagai poros utama dan persendian lutut berfungsi sebagai tambahan.

5. Kinetika Linier
Dalam hal ini pengaruh yang diberikan tungkai kepada bola ditentukan sekali oleh kemampuan otot-otot penggeraknya. Disamping ayunan kaki belakang, ancang-ancang berlari merupakan pase yang berperan penting untuk mendapatkan saat yang tepat dalam membangkitkan kekuatan maksimal. Ancang-ancang yang terlalu jauh cenderung akan menimbulkan kelelahan otot, sehingga jarak 3-4 meter cukup efektif untuk memperoleh kecepatan terbaik untuk memperoleh saat yang tepat tersebut.
BAB III
PENUTUP

A. IMPLEMENTASI
Implikasi hasil analisa yang dilakukan ini mengkaji tentang implikasi secara fungsional anatomi dan biomekanika.
Secara anatomi, kemampuan menendang merupakan serangkaian gerakan yang dilakukan oleh kaki khususnya kaki kanan dalam melakukan tendangan terhadap bola dengantujuan tertentu. Dalam menendang, kekuatan menendang akan sangat membantu untuk mendapatkan kekuatan jalannya bola dan diharapkan juga mengarah pada sasaran. Dalam menendang bola, adalah kerja organ kaki yang meliputi persendia, tulang dan otot-otot. Persendian yang terlibat adalah sendi pinggul, sendi lutut dan pergelangan kaki. Ketiga sendi ini bergerak serentak dalam suatu rangkaian yang bersambung. Sedangkan otot-oto yang terlibat adalah kelompok otot-oto tungkai berupa gluteus maksimus, gleuteus minimius, qudriceps, hamstring, dan gastronocnimeus. Semua persendia ini dilibatkan secara bersamaan dan berantai dimana otot bagian paha sebagai penggerak diawal-awal gerakan yang selanjutnya oleh otot-toto betis.
Kajian anatomi membehas tentang efektifitas dan efisiensi gerak. Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa. Ancang-ancang yang terlalu jauh tidak cukup efektif untuk melakukan tendangan, tetapi ancang-ancang menjadi bagian yang sangat penting dalam, menendang bola. Menendang dengan menggunakan punggung bertujuan untuk mendapatkan tendangan yang kuat dan akura, dimana penapang kaki adalah tulang yang terbuat dari bahan yang keras sehingga hasilnya akan menghasilkan kekuatan yang besar, hanya saja dalam hal ini lebih hati-hati untuk menjaga agar jalannya bola dapat di kuasai.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, selain ancang-ancang untuk memperoleh kecepatan, kekuatan otot-otot menjadi bagian yang sangat penting dalam menghasilkan tendangan yang kuat. Oleh sebab itu dalam latihan dibutuhkan penguatan otot-otot tungkai khususnya quadriceps ekstensor sebagai penggerak gerakan ekstensi lutut yang menjadi subjek pelaku utama.

B. KESIMPULAN
1. Secara keseluruhan rangkai gerak dalam menendang sepenuhnya terpusat pada anggota gerak bawah atau tungkai.
2. untuk mendapatkan hasil menendang yang baik dibutuhkan suatu ancang-ancang untuk mendapatkan kecepatan yang membangkitkan power.
3. Dibutuhkan kekuatan otot-otot untuk menghasilkan kekuatan yang besar.
4. Penempatan kaki tumpu menjadi penentu arah jalannya bola, melambungkah, mendatarkah atau bergelinding.

C. SARAN
Dengan hasil analisi diatas maka disarankan;
1. Bagi pelatih sepak bola, dalam melatih kemampiuan menendang, selain melatih teknik disarankan melatih fisik terlebih pada peningkatan power tungkainya.
2. Pagi pemain sepakbola, untuk menendang bola hendaknya memperhatikan rangkaian teknik yan ada bengan mempertimbangkan nilai biomekanikanya.
3. Untuk dapat menjadi pemain sepakbola harus memiliki kemampuan menendang yang baik.


SUNDULAN
Hasil sundulan  Carles Puyol yang gagal dicegah oleh Kiper Neuer telah menjadi buah bibir tidak hanya di Spanyol tetapi juga di berbagai belahan dunia. Bagaimana mungkin seorang Puyol yang tingginya hanya sekitar 1,7 meter adu sundulan dan menang melawan pemain Jerman yang lebih tinggi seperti Marcell Jansen (190 cm) ataupun  Per Mertesacker (196 cm).  Apakah Puyol itu  kemasukan roh Michael Jordan? Ataukah ia seorang superman?
Menyundul dalam sepakbola merupakan hal yang biasa. Melalui sundulan orang bisa mengumpan bola atau memasukkan bola dalam gawang lawan.  Banyak gol  diciptakan melalui sundulan kepala. Masih ingat kan, ketika Belanda menyisihkan Brazil di arena Piala Dunia 2010,  Sneijder secara gemilang mencetak gol lewat sundulan kepalanya yang botak.

Description: http://www.yohanessurya.com/download/penulis/pic_artikelspesial_Sundul.jpg
Menyundul tidak sesederhana orang bayangkan. Disini beberapa konsep fisika memegang peranan penting. Seorang dapat menyundul bola dan mengarahkan pada sasaran membutuhkan akurasi, daya dan pemanfaatan waktu yang baik,  karena ini melibatkan kecepatan dari bola yang datang dan koordinasi dari kepala dan badan.
Ketika menyundul bola, orang dapat menyundul dengan tetap berada 1) ditempat (berdiri atau melompat vertikal)  atau 2) berlari sambil melompat menyambut bola.  Pada keadaan berlari, bola hasil sundulan akan bergerak lebih cepat karena mendapat tambahan momentum dari  gerakan orang yang menyundul itu.  Besarnya momentum yang diterima bola sangat tergantung pada ke elastisan bola dan kekuatan otot tulang belakang ketika kita menyundul bola. Untuk membuat sundulan sekuat mungkin, kepala harus ditarik kebelakang sebanyak mungkin (badan melengkung), paha ditarik kebelakang dan lutut bengkok (lihat gambar). Pada posisi ini  terjadi keseimbangan aksi-reaksi,  pemain tidak terpelanting atau terputar dan kepala siap memberikan sundulan kuat ke bola.  Saat  bola menyentuh kepala, tubuh harus setegar mungkin agar lebih banyak energi dapat diberikan ke bola (gerakan otot dan urat yang tidak perlu akan menyerap energi kita dan dapat mengurangi energi yang diberikan pada bola).  
Ketika menyundul bola, bola menyentuh kepala kita dalam waktu relatif lebih lama (23 milidetik) dibandingkan waktu menyentuh kaki ketika  kita menendang bola (8 milidetik). Hal ini  memungkinkan kita untuk mengarahkan bola secara akurat ke arah yang kita inginkan. Ini yang menyebabkan seorang Miroslav Klose lewat sundulannya, mampu mengecoh kiper lawan.
Orang botak  seperti Sneijder sering mendapat keuntungan dalam menyundul bola (rambut gondrong akan menyerap sebagian energi bola sehingga bola yang terpantul akan berkurang kecepatannya). Tetapi bukan berarti orang gondrong tidak bisa menyundul keras. Si Gondrong Puyol atau Klose sering memasukkan bola melalui sundulan kepalanya.
Nah sekarang kita lihat gol Puyol. Gol ini tercipta bukan kebetulan atau spontan, tetapi gol ini telah direncanakan lewat perhitungan dan latihan yang matang.
Sebelum bertanding, Puyol  sudah janjian dengan Xavi Hernandez untuk menendang ke dekat titik putih setiap kali mendapat kesempatan sepak pojok.  Tidak mudah melakukan ini, butuh banyak latihan dan butuh perhitungan fisika.  Xavi 3 kali gagal melakukan ini dibabak pertama pertandingan Spanyol melawan Jerman. Namun pada menit ke 73, Xavi berhasil menempatkan bola dekat titik putih. Peluang Ini tidak disia-siakan oleh Puyol yang berlari cepat kemudian melompat menyundul bola ke gawang Manuel Neuer.  Menurut perhitungan fisika kalau Puyol ingin melompat 40 cm agar menang adu duel dengan gelandang Jerman yang rata-rata tingginya 190 cm itu,  maka puyol harus berlari dengan kecepatan minimal  2,8 meter per detik.  Dan ini yang ia lakukan! Hasilnya adalah gol yang menghantar spanyol menjadi finalis Piala Dunia 2010.
 (Yohanes Surya Rektor Universitas Multimedia Nusantara/Chairman Surya Institute)
- See more at: http://blogs.itb.ac.id/ragil10205022/2011/06/16/analisis-sundulan-puyol-menurut-kaidah-fisika/#sthash.wqrkDJUd.dpuf

Pada umunya teknik ini digunakan untuk mengumpan jarak pendek. Analisis geraknya adalah sebagai berikut :

  1. Badan menghadap sasaran di belakang bola.

  2. Kaki tumpu berada disamping bola kurang lebih 15 cm,

  3. ujung kaki menghadap sasara, lutut sedikit ditekuk, kaki ditarik kebelakang, dan ayunkan ke depan, setelah terjadi benturan dilanjutkan dengan Follow trow, (gerakan lanjutan)
  • Menendang dengan kaki bagian luar
Pada umumnya teknik menendang dengan kaki bagian luar digunakan untuk mengumpan jarak pendek. Analisis geraknya sebagai berikut:

  1. posisi badan dibelakang bola, kaki tumpu disamping belakang bola 25 cm, ujung kaki menghadap kesasaran, dan lutut sedikit ditekuk.

  2. kaki tendang berada di belakang bola, dengan ujung kaki menghadap kedalam

  3.  kaki ditarik kebelakang dan ayunkan kedepan
  4. Perkenaan bola tepat di punggung kakibagian luar, dan tepat pada tengah (tengah bola)
  5.  Gerakan lanjutan kaki tending diangkat serong kurang lebih 45 derajat  menghadap sasaran
  • Menendang dengan punggung kaki
Pada umumnyamenendang dengan punggung kaki digunakan untuk menembak ke gawang atau shooting. Analisis gerakanya sebagai berikut :

  1. Badan dibelakang bola sedikit condong kedepan, kaki tumpu diletakkan di samping bola dengan ujung kaki menghadap kesasaran, kaki sedikit ditekuk.

  2. Kaki berada di belakang bola dengan punggung kaki menghadap kedepan/sasaran

  3. Kaki tarik ke belakang dan ayunkan kedepan hingga mengenai bola.
  4. Perkenaan kaki pada bola tepat pada punggung kaki penuh dsan tepat pada tengah – tengah bola.
  5. Gerakan lanjut kaki tending diarahkan dan di angkat kearah sasaran.
Menghentikan bola (stopping)
Menghentikan bola merupakan salah satu teknik dasar dalam permainan sepakbola yang penggunaanya bersamaan dengan teknik menendang bola. Tujuan menghentikan bola adalah untuk mengontrol bola, yang termasuk didalamnya adalah untuk mengatur tempo permainan, mengalihkan laju permainan, dan memudahkan untuk passing. Analisis gerakanya sebagai berikut :

  1. Posisi badan segaris dengan datangnya bola.

  2. Kaki tumpu mengarah pada boladengan lutut sedikit ditekut

  3. Kaki penghenti diangkat sedikit deengan permukaan bagian dalam kaki dijulurkan kedepan segaris dengan datangnya bola
  4. Bola menyentuh kaki persis dibagian dalam/mata kaki
  5. Kaki penghenti mengikuti arah bola.
Untuk teknik menghentikan bola masih terdapat banyak cara yang dapat dilakukan diantaranya yaitu menggunakan Punggung kaki, Paha, Dada, serta Kepala apabila memungkinkan.

Menggiring Bola

Pada dasarnya menggiring bola adalah menendang terputus – putus atau pelan, oleh karenanya bagian kaki yang dipergunakan dalam menggiring bola sama dengan bagian kaki yang dipergunakan untuk menendang bola. Menggiring bola bertujuan antara lain untuk mendekati jarak kesasaran, melewati lawan, dan menghambat permainan. Dibawah ini akan di jelaskan mengenai posisi tubuh saat menggiring bola dengan menggunakan kaki bagian dalam :

  1. Posisi kaki menggiring bola sama dengan posisi menendang bola.

  2. Kaki yang digunakan untuk menggiring bola tidak ditarik kebelakang hanya diayunkan kedepan.

  3. Diupayakan setiap melangkah, secara teratur bola disentuh/ didorong bergulir kedepan.
  4. Bola bergulir harus selalu dekatdengan kaki agar bola dapat dikuasai
  5. Pada waktu menggiring bolakedua lutut sedikit ditekuk untuk mempermudah penguasaan bola
  6. Pada saat kaki menyentuh bola, pendangan ke arah bola dan selanjutnya melihat situasi kelapangan.
Jika anda menjadi kiper kami akan menjelaskan cara cara menjadi kiper yang baik :



Penjaga gawang atau sering disebut Kiper (dalam sepak bola) adalah salah satu posisi dalam berbagai olahraga berkelompok seperti sepak bola, hoki dan polo air. Tugas seorang penjaga gawang adalah mencegah bola masuk ke gawang. Penjaga gawang adalah palang pintu terakhir bagi lawan sebelum memasukkan bola ke gawang. Penjaga gawang harus memiliki:





  •  Insting terhadap lawan
  • Refleks yang sempurna
  • Bakat
  
Tanpa salah satu dari tiga kriteria di atas, sulit untuk menjadi seorang penjaga gawang.

1. Reflek
Tiap orang pasti beda - beda refleknya, tapi menurut kami reflek bisa muncul dari kebiasaan, dan dari kebiasaan itu kita bisa reflek memposisikan diri saat 1 lawan 1 sama striker musuh.

2. Membaca Permainan Lawan
Kalau di futsal, kami biasanya stay still di belakang sambil agak nunduk... Biasanya dapet view pergerakan pemain lawan, jadi bisa teriak - teriak ngatur bek...

3. Fokus dan Ketenangan
Ngebaca permainan lawan bakalan susah kalo kita gak tenang gan, apalagi pas di counter,bisa mungkin tetap tenang sambil perhatikan posisi lawan,, agak susah emang,, ane biasanya panik duluan kalau  kena counter

4. Stamina
Siapa bilang jadi kiper ga butuh stamina banyak? Menurut kami yg paling nguras tenaga kiper itu teriak teriak ngatur defendernya  Kalau stamina udah kekuras


Rabu, 30 September 2015

Mengukur Vo2max
Jika anda bergelut dibidang olahraga anda pasti tahu apa itu Vo2Max. Namun bagi beberapa kalangan yang masih awam mengenai Vo2Max pastilah bingung apa itu Vo2Max, Bagaimana cara mengukurnya dsb.
VO2 max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Volume O2 max ini adalah suatu tingkatan kemampuan tubuh yang dinyatakan dalam liter per menit atau milliliter/menit/kg berat badan.
Setiap sel dalam tubuh manusia membutuhkan oksigen untuk mengubah energi makanan menjadi ATP (Adenosine Triphosphate) yang siap dipakai untuk kerja tiap sel yang paling sedikit mengkonsumsi oksigen adalah otot dalam keadaan istrahat. Sel otot yang berkontraksi membutuhkan banyak ATP. Akibatnya otot yang dipakai dalam latihan membutuhkan lebih banyak oksigen dan menghasilkan CO2. Kebutuhan akan Oksigen dan menghasilkan CO2 dapat diukur melalui pernafasan kita. Dengan mengukur jumlah oksigen yang dipakai selama latihan, kita mengetahui jumlah oksigen yang dipakai oleh otot yang bekerja. Makin tinggi jumlah otot yang dipakai maka makin tinggi pula intensitas kerja otot.
Tingkat Kebugaran dapat diukur dari volume Anda dalam mengkonsumsi oksigen saat latihan pada volume dan kapasitas maksimum. Kelelahan atlet yang dirasakan akan menyebabkan turunnya konsentrasi sehingga tanpa konsentrasi yang prima terhadap suatu permainan, sudah hampir dipastikan kegagalan yang akan diterima.
Cepat atau lambatnya kelelahan oleh seorang atlet dapat diperkirakan dari kapasitas aerobik atlet yang kurang baik. Kapasitas aerobik menunjukkan kapasitas maksimal oksigen yang dipergunakan oleh tubuh (VO2Max). Dan seperti kita tahu, oksigen merupakan bahan bakar tubuh kita. Oksigen dibutuhkan oleh otot dalam melakukan setiap aktivitas berat maupun ringan.
Dan semakin banyak oksigen yang diasup/diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam bekerja sehingga zat sisa-sisa yang menyebabkan kelelahan jumlahnya akan semakin sedikit. VO2Max diukur dalam banyaknya oksigen dalam liter per menit (l/min) atau banyaknya oksigen dalam mililiter per berat badan dalam kilogram per menit (ml/kg/min). Tentu, semakin tinggi VO2 max, seorang atlet yang bersangkutan juga akan memiliki daya tahan dan stamina yang istimewa.
Bagaimana mengukur VO2 max ?
Sebagai pertimbangan dalam mengukur VO2 max adalah tes harus diciptakan demikian rupa sehingga tekanan pada pasokan oksigen ke otot jantung harus berlangsung maksimal. Kegiatan fisik yang memenuhi criteria ini harus:
  • melibatkan minimal 50 % dari total masa otot. Aktivitas yang memenuhi criteria ini adalah lari, bersepeda, mendayung. Cara yang paling umum dilakukan dengan lari di Treadmill, yang bisa diatur kecepatan dari sudut inklinasinya
  • Lamanya tes harus menjamin terjadinya kerja jantung maksimal. Umumnya berlangsung 6 sampai 12 menit.
Salah satu cara untuk mengukur Vo2Max adalah metode Cooper Test , metode ini cukup sederhana. Dimana atlet melakukan lari/jalan selama 12 menit pada lintasan lari sepanjang 400 meter. Setelah waktu habis jarak yang dicapai oleh atlet tersebut dicatat.
Rumus sederhana untuk mengetahui VO2Maxnya adalah : Jarak yang ditempuh dalam meter – 504.9) / 44.73.
Contoh : Dio melaksanakan Cooper Test dengan lari selama 12 menit, jarak yang dicapai (2600 meter – 504.9) dibagi 44.73 = 46.83881 mls/kg/min.
atau memakai tes
Harvard Step Test
Tes ini adalah pengukuran yang paling tua untuk mengetahui kemampuan aerobik yang dibuat oleh Brouha pada tahun 1943. Ada beberapa istilah seperti kemampuan jantung-paru, daya tahan jantung-paru, aerobic power, cardiovascular endurance, cardiorespiration endurance, dan kebugaran aerobik yang mempunyai arti yang kira-kira sama. Penelitian ini dilakukan di Universitas Harvard, USA, jadi nama tes ini dimulai dengan nama Harvard. Inti dari pelaksanaan tes ini adalah dengan cara naik turun bangku selama 5 (lima) menit.
Pelaksanaan: 
1. Tinggi bangku 20 feet (50 cm)
2. Irama langkah pada waktu naik turun bangku (NTB) adalah 30 langkah per menit, jadi 1 (satu) langkah setiap 2 (dua) detik
3. 1 (satu) langkah terdiri dari 4 (empat) gerakan/hitungan:
  • Hitungan 1 : Salah satu kaki diangkat (boleh kanan atau kiri terlebih dahulu tetapi konsisten), kemudian menginjak bangku. (Asumsi kaki kanan)
  • Hitungan 2 : Kaki kiri diangkat lalu berdiri tegak di atas bangku
  • Hitungan 3 : Kaki yang pertama menginjak bangku pada hitungan 1 (asumsi kaki kanan) diturunkan kembali ke lantai
  • Hitungan 4 : Kaki kiri diturunkan kembali ke lantai untuk berdiri tegak seperti sikap semula
4. Ganti langkah diperbolehkan tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) kali
5. Supaya irama langkah ajeg/stabil, maka digunakan alat metronome
6. NTB dilakukan selama 5 (lima) menit. Saat aba-aba stop, tubuh harus dalam keadaan tegak. Kemudian duduk dibangku tersebut dengan santai selama 1 (satu) menit
7. Hitung denyut nadi (DN) orang coba (testi) selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 1
8. 30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 2
9. 30 detik kemudian hitung kembali DN testi selama 30 detik. Dicatat sebagai DN 3
10. Setelah mendapatkan DN 1, DN 2, DN 3, maka data tersebut dimasukan kedalam rumus Indeks kebugaran yang selanjutnya dikonversikan sesuai rumus yang dipilih
11. Apabila testi tidak kuat melakukan NTB selama 5 (lima) menit, maka waktu lama NTB tersebut dicatat, lalu DN-nya diukur/dihitung sesuai dengan petunjuk pengambilan DN tersebut
Indeks Kebugaran
Rumus Panjang:
Durasi NTB (detik) x 100/2 (DN 1+DN 2+DN 3)
Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran
< 55 Jelek 55-64 Kurang dari rata-rata 65-79 Rata-rata 80-89 Baik ≥90 Baik sekali Rumus Pendek: Durasi NTB (detik) x 100/(5,5 x DN 1) Indeks Kebugaran Kategori Kebugaran < 50 Jelek 50-80 Rata-rata >80 Baik
Disamping dari kedua tes diatas, beberapa cara untuk mengetahui kapasitas VO2Max, seperti :
• 2.4km Run Test
• Astrand 6 minute Cycle test – VO2max test on a static bike
• Balke VO2max test – suitable for endurance sports
• Conconi test
• Multistage Fitness Test or Bleep test – VO2max test for endurance sports
• Treadmill VO2max test – VO2max test
• VO2max from non-exercise data – VO2max test


A. LATAR BELAKANG
Teori kesatuan psiko-fisik atau teori psiko-fisik totalitas berkembang karena para ahli menyadari bahwa oranq yang keadaan kejiwaannya mengalami gangguan, karena rasa susah, gelisah atau ragu-ragu menghadapi sesuatu, ternyata mempengaruhi kondisi fisiknya. Akibat rasa susah dan gelisah menghadapi masa depan, seseorang kurang dapat tidur nyenyak, sehingga akhirnya mempengaruhi tingkahlaku dan penampilan¬nya. Sebaliknya keadaan fisik yang kurang sehat, karena sedang sakit, sesudah mengalami kecelakaan dan cidera, juga dapat mempengaruhi kejiwaan individu yang bersangkutan; kurang dapat memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapi, kurang dapat berfikir dengan tenang, kurang dapat berfikir dengan cepat, dsb-nya.
Sejak lebih kurang setengah abad yang lalu adanya hubungan timbal-balik an¬tara jiwa dan raga, atau antara gejala fisik dan psikik, telah menjadi bahan pembahasan para ahli psikologi. Ronge (1951) menyebutkan manusia sebagai suatu organisme, yang mengikuti hukum-hukum biologi, hukum-hukum dalam pikir, rasa keadilan, dsb. Perasaan atau emosi memegang peranan penting dalam hidup manusia. Semua ge-jala emosional seperti: rasa takut, marah, cemas, stress, penuh harap, rasa senang dsb, dapat mempengaruhi perubahan-perubahan kondisi fisik seseorang. Perasaan atau emosi dapat memberi pengaruh-pengaruh fisiologik seperti: ketegangan otot, denyut jantung, peredaran darah, pernafasan, berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon tertentu.
Sehubungan itu semua maka jelaslah bahwa gejala psikik akan mempengaruhi penampilan dan prestasi atlet. Dalam hubungan ini pengaruh gangguan emosional perlu diperhatikan, karena gangguan emosional dapat mempengaruhi "psychological stability" atau keseimbangan psikik secara keseluruhan, dan ini berakibat besar terhadap pencapatan prestasi atlet.


Dalam melakukan kegiatan olahraga, lebih-lebih untuk dapat mencapai prestasi yang tinggi, diperlukan berfungsinya aspek-aspek kejiwaan tertentu; misalnya untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam cabang olahraga panahan atau menembak, maka atlet harus dapat memusatkan perhatian dengan baik, penuh percaya diri, tenang, dapat berkonsentrasi penuh meski ada gangguan angin atau suara, dll-nya. untuk, menjadi peloncat indah atau peloncat menara yang berprestasi tinggi, atlet yang bersangkutan harus memiliki rasa percaya diri, keberanian, daya konsentrasi, kemauan keras, koordinasi.gerak yang baik, dan rasa keindahan; ini semua akan dapat, terganggu apabila atlet yang bersangkutan mengalami gangguan emosional.
Emosi atau perasaan atlet perlu mendapat perhatian khusus dalam olahraga, karena emosi atlet di samping mempengaruhi aspek-aspek kejiwaan yang lain (akal dan kehendak), juga mempengaruhi aspek-aspek fisiologiknya sehingga jelas akan berpengaruh terhadap peningkatan atau merosotnya prestasi atlet.
Ditinjau dari konsep jiwa dan raga sebagai kesatuan yang bersifat organis, maka gangguan emosional terhadap diri atlet akan berpengaruh terhadap keadaan kejiwaan atlet secara keseluruhan, ketidak-stabilan emosional atau "emotional instability" akan mengakibatkan terjadinya psychological instability", dan akan mempengaruhi peran fungsi-fungsi psikologisnya, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pencapaian prestasi atlet.

B. MASALAH
Dalam permasalahan di atas penulis lebih menekankan beberapa masalah diantaranya :
1. Apakah pengertian dari Anxiety (kecemasan) dalam olahraga?
2. Apakah pengertian dari stres dalam olahraga ?
3. Bagaimana upaya pengendaliannya

C. TUJUAN
Penulis menyusun makalah ini dengan tujuan :
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kecemasan, stress dan upaya pengendalian seorang atlet dalam mengahadapi masalah seperti dalam olahraga olahraga terhadap prestasi seorang atlet
2. Mengupayakan agar tugas dan peran pokok seorang pelatih untuk membangun percaya diri seorang atlet dengan baik yang pada akhirnya tujuan utama prestasi olahraga bisa tercapai


D. MANFAAT
Manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah agar para pelatih, guru dan orang yang bergelut didalamnya melaui pemahaman akan fungsi tugas dan perannya bisa meningkatkan kemampuan mendidik atau mengajar terhadap anak didiknya serta mampu mengembangkan potensi diri peserta didik, mengembangkan kreativitas dan mendorong adanya penemuan keilmuan dan teknologi yang inovatif, sehingga para Atlet/siswa mampu bersaing dalam masyarakat global.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anxiety (Kecemasan) dalam Olahraga
Kita semua tentu pernah merasa takut atau cemas dalam berbagai situasi. Takut dimarahi, takut tidak lulus, takut tidak puss, takut kalah, dan sebagainya. Demikian pula atlet. Dalam menghadapi pertandingan, wajar saja kalau atlet menjadi tegang, bimbang, takut, cemas, terutama kalau menghadapi lawan yang lebih kuat atau seimbang, dan kalau situasinya mencekam. Ketakutan pada atlet pada umumnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori (Cratty, 1973):
a. Takut gagal dalam pertandingan
b. Takut akan akibat sosial atas mutu prestasi mereka
c. Takut kalau cedera atau mencederai lawan
d. Takut fisiknya tidak akan mampu menyelesaikan tugasnya atau pertandingan dengan baik
e. (Dan percaya atau tidak), ada pula atlet yang takut menang.
Hasil-hasil penelitian cenderung menunjukkan bahwa atlet paling takut pada akibat sosial yang akan mereka peroleh atas mutu prestasi mereka. Misalnya takut gagal memenuhi harapan pelatih, KONI, pemerintah, takut dice¬mooh, dikritik, dikecam masyarakat.

1. Kecemasan dan Motif Berprestasi
Suasana stress wring sekali membuat seseorang hidup penuh gairah, karena dapat mengatasi suasana penuh stress dapat menimbulkan kepuasan dan kebang¬gaan pada diri seseorang. Yang lebih penting dalam pembinaan atlet, yaitu me¬ningkatkan kemampuan mengatasi stress juga akan menjauhkan kemungkinan atlet mengalami kecerr.asan.
Stress yang berlangsung terus-menerus dapat menimbuikan kecemasan, karena itu tingkat ketegangan yang dapat menimbulkan stress harus selalu dimonitor terus-menerus, disesuaikan dengan kemampuan atlet menghadapi suasana stress. Di cam¬ping itu tingkat berat-rinqannya.4Qtegangan yang dapat ditanagung oleh atlet, khususnya atlet yunior, juga harus selalu diperhatikan karena stress atau ketegangan psikis yang terlalu besar, yang tidak tertahankan oleh atlet, juga dapat menimbulkan kecemasan.
Crafty (1973) membedakan kemungkinan timbulnya kecemasan karena takut cidera atau "harm anxiety" atau kecemasan karena takut gagal atau "failure anxie¬ty". Dalam hubungan ini Crotty mengemukakan sebagai berikut:
"Thus, failure anxiety is related to .the individual's perception of the social consequences of his relative success or failure in a situation: This type of fear was more important to most of the individuals polled than was harm anxiety, or the fear of being physically incapacitated.
Penelitian lebih lanjut mengenai kecemasan karena takut cidera dan kecemasan karena takut gagal, diakui oleh Crotty belum dikembangkan lebih lanjut. Mengenai kecemasan karena takut gagal di satu pihak dan harapan untuk sukses di lain pihak merupakan hal yang cukup menank untuk dijadikan bahan studi. Sehubungan ini Crotty mengemukakan sebagai berikut~
"The degree to which anxiety levels in an individual interfere with performance, therefore, is probably related to the individual's feelings about success vs. failure and his overall need for achievement."
Selama berlangsungnya Olympic Games 1968 oleh para ahli psikologi olahraga telah diadakan penelitian mengenai hubungan antara kecemasan, motif berprestasi, dengan penampilan para atlet. Atlet-atlet sebagai subyek penelitian dibagi dalam empat kelompok, yaitu yang memiliki kecemasan tinggi atau "high anxiety" dan yang memiliki kecemasan rendah atau "low anxiety"; kemudian tiap kelompok tersebut dibagi lagi atas dasar (kriteria) mereka yang memiliki motif berprestasi tinggi atau "high needs for achievem dan yang memiliki motif berprestasi rendah atau "low needs for achievement
2. Kecemasan dan Prustasi

Antara stress, "arousal", dan kecemasan atau "anxiety", menurut Richard H. Cox ada keterkaitannya. Kecemasan dapat didifinisikan sebagai perasaan subyektif g berdasarkan ketakutan dan meningkatnya "physiological arousal" (Levitt, 1980).
Mengenai hubungan stress dengan kecemasan, Soparinch dan Sumorno ,kum (1982) mengemukakan sebagai berikut:
"Bila stress yang dialami seseorang terlalu besar baginya, hingga tidak dapat dilakukan tindakan untuk mengatasi; atau bila stress yang dihadapi seseorang berlangsung terus-menerus, maka akan timbul kecemasan. Kecemasan adalah suatu perasaan tak berdaya, perasaan tak aman, tanpa sebab yang jelas. Perasaan cemas atau anxiety kalau dilihat dari kata "anxiety" berarti perasaan tercekik".
Perasaan cemas dapat terjadi pada atlet pada waktu menghadapi keadaan tertentu, misalnya dalam menghadapi kompetisi yang memakan waktu panjang dan¬ternyata atlet tersebut mengalami kekalahan terns-mencrus. Rasa cemas yang terjadi pada suatu keadaan tertentu disebut "State Anxiety". Menurut Spielberger (1985) "state anxiety" adalah keadaan emosional yang terjadi mendadak (pada waktu tertentu) yang ditandai dengan kecemasan, takut, dan ketegangan; biasanya diikuti dengan perasaan cemas yang mendalam disertai ketegangan dan "physiological arousal".
Di samping "state anxiety" juga dikenal "trait anxiety", yaitu rasa cemas yang merupakan sifat-sifat pribadi individu. Trait anxiety merupakan sifat pribadi yang lebih menetap (seperti sifat pembawaan). Atlet yang memil.ikj "trait anxiety" biasanya menun-jukkan sifat mudah cemas menghadapi berbagai permasalahan, khususnya pemasalahan yang berhubungan dengan keamanan pribadinya atau "emotional securi¬ty"-nya. Perasaan cemas pada dasamya terjadi karena individu khawatir akan terganggu personal security"-nya, oleh karena itu individu yang bersangkutan menunjukkan gejala cemas, yang mengandung rasa takut.
"State anxiety" merupakan gejala khusus bagaimana keadaan individu menghadapi situasi tertentu yang mengganggu "personal security"-nya; "state anxie¬ty" mempunyai rujukan obyektif (objective reference). "Trait anxiety" sebagai sifat pribadi individu lebih bersifat tetap dan akan tampak pada berbagai peristiwa atau situasi di mana individu yang bersangkutan merasa terganggu "personal security"-nya; "trait anxiety" mempunyai rujukan subyektif (subjective reference).
Sehubungan dengan gejala "trait anxiety" tersebut, Silva dan Weinberg (1984) 'mengemukakan adanya gejala "competitive trait anxiety" (CTA) pada sementara atlet. Gejala CTA tersebut pdalah gejaladi mana atlet menunjukkan rasa cemas dan ttakut hanya pada waktu 'akan menghadapi kompetisi saja, dan sesudah selesai kompetisi adet tersebut tidak menunjukkan kecemasan atau menjadi normal kembali Robert J. Sonstroem (1984) dalam tulisan yang berjudul: "An Overview of Anxiety in Sport" yang dihimpun oleh Silva dan Weiberg dalam "Psychological Foundations of Sport", mengemukakan penelitian Davidson dan Schewartz (1976) yang menggunakan postulat (anggapan dasar) bahwa persepsi mengenai kecemasan dapat dibedakan atas komponen kognitif dan somatik. Dengan kuesioner dikembangkan ciri-ciri pengalaman rasa cemas; dan pengelompokan atas dasar ciri-ciri tersebut digunakan untuk menetapkan sistem, perlakuan yang dianjurkan Borkovec (1976) sebagai berikut:
"That is, cognitive anxiety reduction is more compatible with self-instruction and thought-stopping methods, for example, and somatic anxiety reduction is better accomplished with methods such as progresive relaxation, biofeed¬back, and Qxercice."
Temuan Davidson dan Schwartsz tersebut, merupakan temuan yang sangat berguna untuk dapat diterapkan dalam menyusun program pembinaan mental atlet, sehubungan dengan perbedaar.-perbedaan individual atlet yang menunjukkan gejala kecemasan.

3. Frustasi dalam Olahraga
Frustrasi timbal karena individu merasa gagal tidak dapat mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Setiap atlet ingin mendapat kepuasan, ingin terpenuhi kebutuhan¬nya, ingin mencapai harapan untuk menang; dan apabila hal tersebut tidak terwujud, maka dapat menimbulkan frustrasi.
Sebetulnya frustrasi bukan hanya disebabkan karena kegagalan saja, tetapi terutama datang dari dalam diri atlet itu sendiri yang diliputi perasaan gagal. Cukup banyak atict.yang gagal dalam suatu pertandingan atau gagal mencapai prestasi sesuai apa yang diinginkan, tetapi tidak mengalami frustrasi.
Dalam hubungan dengan kemungkinan terjadinya frustrasi ini pelatih harus memasukkan program latihan untuk menyiapkan atlet agar slap menghadapi kemungkinan mengalami kegagalan, disamping mendorong atlet untuk berprestasi setinggi-tingginya. Kesiapan mental untuk menghadapi semua kemungkinan, termasuk juga kemungkinan kalah dalam pertandingan merupakan tugas pelatih untuk menyiapkan seorang calon juara.
Frustrasi dapat terjadi pada atlet yang mempunyai sifat pesimis maupun atlet yang mempunyai sifat optimis. Pada atlet yang mempunyai sifat pesimis, pada waktu ia menghadapi kenyataan kurang berhasil atau belum berhasil, mungkin atlet tersebut sudah merasa gagal lebih dahulu. Atlet yang memiliki sifat-sifat pribadi pesimis mudah mengalami frustrasi, karena dalam mengalami kegagalan sedikit saja, dianggapnya sebagai kegagalan yang akan dialami seterusnya.
Seorang atlet yang mempunyai sifat optimis adalah baik, karena tanpa memiliki sifat optimis atlet tidak akan maju; Haman tertalu optimis juga kurang menountungkan. Atlet yang terlalu optimis adalah atlet yang mempersepsikan diri memiliki kemam-. puan lebih dari keadaan senyatanya, yaitu lebih dari kemampuan yang dimiliki sebenar nya. Hal semacam ini terjadi pada atlet yang "over-confidence". Atlet yang terlalu optimis, pada waktu mengalami kegagalan, mudah kecewa, kehilangan keseimbangan ernosinya. Sudah barang tentu hal semacam ini kurang menguntungkan, karena tidak stabiInya emosi akan mengganggu stabilitas psikisnya secara keseluruhan; ini berakibat konsentrasinya terganggu, reaksinya berkurang, koordinasi geraknya juga terganggu, dsb-nya.
Pada dasarnya frustrasi lebih mudah terjadi pada atlet yang belum memiliki kematangan emosional, hal ini juga berkaitan dengan sifat-sifat kepribadian atlet yang bersangkutan. Kepercayaan pada diri sendiri merupakan hal yang perlu sekali ditanamkan sejak dini, karena percaya diri merupakan salah satu hal yang memben¬tuk kemampuan menghindarkar, diri dart kemungkinan terjadinya frustrasi. Menum¬buhkan rasa percaya diri merupakan salah satu program latihan mental yang perlu diperhatikan para pelatih.
Tidak sedikit atlet berbakat yang dapat berprestasi tinggi dan dapat menjadi juara, akhirnya gagal dan hilang ditengah perjalanan hidupnya sebagai atlet yang ber¬prestasi, karena merasa gagal dan mengalami frustrasi. Untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya frustasi ,sejak dini secara sistematis atlet perlu dilatih menghadapi tantangan-tantangan untuk diatasi. Keadaan penuh ketegangan atau stress menghadapi tantangan akan dapat menimbulkan proses adaptasi, yaitu penyesuaian diri sehingga akhirnya cukup mampu mengatasi kemungkinan frustrasi.
Seorang.atlet yang cukup mampu untuk.merigatasi kemungkinan mengalami frustrasi, disebut juga atlet yang memiliki "a bight frustration tolerance" (Crotty, 1973). Menurut Saparinah dan Sumarno Markam (1982), atlet-atlet yang bare terjun dalam kompetisi, mempunyai "ambang stress" yang lebih rendah daripada yang sudah lama terjun dalam kompetisi. Karena yang sudah lama terjun dalam kompetisi sudah lebih terlatih dan sudah terbiasa dengan pengalaman yang penuh dengan stress di masa lalu.
Pernyataan Saparinah dan Sumarno Markam tersebut lebih menunjang perlunya pembinaan mental sejak dini; suasana kompetisi yang penuh stress dapat diciptakan sejak dini sehingga dapat meningkatkan kemampuan talon atlet mengatasi stress, dan sekaligus akan menghindarkan kemungkinan mengalami frustrasi.

B. Stres Dalam Olahraga (Gejala emosional)
Seperti halnya otot-otot kita mengalami ketegangan karena melakukan jaan fisik maka kitapun dapat mengalami ketegangan psikik, yang disebut "stress".Menurut Gauron (1984) stress seperti halnya ketegangan otot tidak dapat dielakan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita tidak dapat menghindarkan ketegangan psikik atau stress, beberapa ketegangan diperlukan dan beberapa ketegangan tidak diperlukan dalam penampilan dan melakukan tugas. Menurut Gauron kurangnya ketegangan atau "lack of tension" akan berakibat kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik. Untuk dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu dibutuhkan adanya ketegangan otot-otot, dimana ketegangan tersebut sangat diperlukan kemanfaatannya.
Setiap atlet yang bertanding dalam suatu per-isdwa olahraga merasakan adanya peningkatan ketegangan emosional untuk mengap.tisipasi situasi pertandingan yang dihadapi. Singer (1986) mengemukakan bahwa aktivitas penuh ketegangan tidak selalu jelek bagi seorang atlet. Ditinjau dari macam reaksi mental dan emosional, Singer menunjukkan dues gejala yang berhubungan dengan emosi, yaitu: tidak adanya kesiapan dan penuh kesiapan. Tidak adanya kesiapan atau "under readiness" ada hubungan dengan kurangnya motivasi, sedangkan "over readiness" atau penuh kesiapan berhubungan dengan kesiapan untuk menang atau penampilan buruk, ketakutan akan kalah, dsb-nya.
Stress atau ketegangan psikik bentulmya dapat beraneka macam. Menurut Gauron (1984) stress menunjukkan gejala tidak sama terhadap tantangan-tantangan Yang dihadapi, untuk dapat melakukan adaptasi. Menghadapi stress, badan manusia Mengadakan reaksi dengan cara-cara atau bentuk yang konsisten, ada pengerahan atau"arousal"system syarat otonom"tertentu.Jadi gejala stress menurut Gauron tersebut dapat lebih bervariasi dibanding "tension" atau ketegangan fisik yang dialami seseorang.

1) Stress dan Pertandingan
Menurut Scanlan (1984) dalam tulisannya yang berjudul: "Competitive Stress and the Child Athlete" yang dimuat dalam buku "Psychological Foundations of Sport" mengemukakan bahwa "competitive stress" atau stress yang timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emosional yang negatif pada anak apabila rasa harga-dirinya merasa terancam. Hal seperti ini terjadi apabila atlet yunior menganggap pertandingan sebagai tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.
Stress selalu akan terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan, sehingga kemungkinan tidak tercapainya harapan tersebut menghantui pemikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional, yang akhir¬nya berpengaruh terhadap proses-proses psikologik maupun proses fisiologik.
Spielberger (1986) ja am tulisannya mengenai "Stress and Anxiety in Sports" dalam kumpulan karya ilmiah yang dihimpun oleh Morgan berjudul "Sport Psychology" (1986) menegaskan bahwa stress menunjukkan "psychobiological process" yang kornpieks, can proses ini pacia ainuinnyd Llefjdoil caidm situasi yang mengandung nai yang dapat merugikan-, berbahaya, atau dapat menimbulkan frustrasi (stressor).
"Stressor" menurut Spielberger (1986) menunjukkan situasi-situasi atau stimuli yang secara obyektif ditanJai dengan adanya tekanan fisik ataupun psikologik atau bahaya dalam suatu tingkat tertentu. situasi penuh stress akan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam tingkat-tingkat yang berbeda dalam perkembangan manusia.
Reaksi yang berbeda-beda akan muncul dalam menghadapi "stressor", tergan¬tung pada situasi tertentu yang diperkirakan mengandung ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya. Dalam hubungannya dengan aktivitas olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya stress menghadapi pertandingan, maka permasalahannya sangat banyak tergantung pada din atlet yang bersangkutan.
Mengenai timt)ulnya stress, Gauron (1984) berkesimpulan:
1. "Because stress is an inevitable part of life, it cannot be avoided.
2. Since stress is inevitable, individuals must reduce its effects and cope through a personal stress management program.
3. Chronic stress may have adverse effects upon the body particularly if it is not taught to relax".
Mungkin sekali suatu situasi yang sama dapat dirasakan sebagai ancaman bagi seorang atlet, tetapi hanya merupakan tantangan bagi atlet lain, dan mungkin bahkan tidak berarti apa-apa bagi atlet lain. Jadi dari pengalaman-pengalaman mengenai an¬caman, ada hubungannya dengan keadaan mental atlet yang bersangkutan.
Mengenai ancaman dalowikaitannya dengan keadaan mental atlet, Spielberger (1986) mengemukakan'adanya dua karakteristik pokok, yang disimpulkannya sebagai berikut:
'Thus, the experience of threat is, essentially, a state of mind which has two mein characteristics:
1) It is future-oriented, generally involving the anticipation of a potentially harmful event that has not yet happened; and
2) It is mediated by mental activities-peerception, thought, memory, and judg¬ment which are involved in the appraisal process".
Penilaian adanya ancaman yang dihadapi clan adanya penilaian bahaya yanq dihadapi (masa depan) memberi andil penting terhadap timbulnya reaksi emosional serta tindakan yang akan diambil individu menghindari ancaman atau bahaya dihadapinya.

2. Arousal" dan "Inverted U"
Arousal" adalah hal yang tidak dapat dielakkan seperti timbulnya ketegangan fisik atau "tension" dan stress. Yang dimaksudkan dengan "arousal" adalah gejala yang menunjukkan adanya pengerahan peningkatan aktifitas psikis. Teriadinya gejala "arousal" biasanya berjalan sejajar dengan terjadinya peningkatan penampilan atlet; dengan kata lain ada korelasi positif antara "arousal" dengan penampilan atlet.
Menurut Cox (1985) "arousal" adalah suatu istilah netral yang menunjukkan peningkatan aktivitas sistem syaraf simpatetis. Ini menunjukkan intensitas peningkatan giologis, dan tidak dapat digunakan untuk menunjukkan keadaan emosional terten¬tu. Misalnya, baik orang dalam keadaan senang maupun dalam keadaan takut, ke duanya dapat menyebabkan "arousal" fisiologis; meskipun rasa takut adalah qeja4, afek yang bersifat negatif, sedangkan senang atau gembira adalah gejala afek yang bersifat positif.
Mengenai hubungan antara "arousal" dan penampilan atlet yang digambarkan sebagai garis lurus (garis linear), seolah-olah ada korelasi positif antara "arousal" dengan peningkatan penampilan secara terus-menerus, mendapat tantangan antara lain dengan munculnya teori "Inverted U" atau teori U terbalik. Menurut teori "Inverted U" baik arousal" tingkat rendah maupun tingkat tinggi tidak akan menghasiikan penampilan yang setinggi-tingginya ("peak performance'). Tingkat "arousal" moderat (sedang) pads umumnya memberi kemungkinan lebih besar untuk pencapaian puncak penampilan atau "peak performance".
Richard H. Cox (1985) mengemukakan adanya dua teori dasar mengenai hubungan "arousal" dan penampilan; yang pertama adalah teori "Inverted U", dan yang ke dua adalah teori drive. Teori "drive" adalah teori multidimensional mengenai l(Rampilan dan proses bellajar, sedangkan teori "Invel–ted U" meliputi berbagai sub- teori yang menjelaskan mengapa saling hubungan antara "arousal" dan penampilan ,ituk kurve persamaan kuadrat. Teori "drive" membentuk gars hubungan linear.
Dewasa ini para ahli cenderung lebih setuju dengan teori "Inverted U" diban ding teori "Drive" yang digambarkan dengan garis linear (seperti pada Gambar 1. Hubungan secara positif yang menunjukkan adanya korelasi positif, yaitu peningkatan "arousal' akan selalu diikuti peningkatan penampilan; sudah dapat dibayangkan bahwa pada suatu waktu tentu ada batasnya di mans garis hubungan korelasi positif akan berhenti.

Gambar 1. Perbedaan teori "Drive" dan "Inverted U"
Sumber : Cox, Richard H. (1985). Sport Psychology Concepts and Application.

Kalau ditelusuri lebih jauh, maka penemu teori "Inverted U" yang merupakan hasil karya klasik adalah Yerkes dan Dodson pada tahun 1908 (Cox, 1985) Yerkes dan Dodson pada waktu itu menemukan saling hubungan antara "arousal" dan kesukaran tugas terhadap, dampaknya pada penampilan.
Untuk menelid "arousal", cukup banyak "electrophysiological indicators" un¬tuk mengetahui gejala "arousal", misalnya: dapat diukur dengan "elec-troencephalograph" (EEG), mengukur denyut jantung dengan "electrocardiograph" (EKG), mengukur ketegangan otot dengan "electromyograph" (EMG), kecepatan per-nafasan, tekanan darah, keringat pada telapak tangan, dsb-nya.
Menurut Joseph B. Oxendine (1980) yang menulis tentang "Emotional Arousal amt Motor Performance" datum kutnpulan karya ilmiah yang himpun Richard N. Suinn "Psychology in Sports", ada hubungan antara kecemasan dengan "emotional arousal". Apabila seseorang berbicara tentang "emotional arousal" maka is akan menghubungkan dengan salah sate atau beberap5 jala negatif seperti: rasa takut, marah, rasa cemas, iri-hati, rasa malu, berki; )emu, dsb-nya. Gejala-gejala yang positif misalnya: gem¬bira, sangat berminat, bahagia, cinta, dsb-nya.
"Arousal" emosional yang negatif dapat mengganggu atau mengacaukan penampilan atlet. Mengenai hal ini juga pernah diteliti oleh pars ahli psikologi olahraga selama berlangsungnya Olympic Game 1968,
C. Upaya Pengendaliannya terhadap kecemasan dan stress dalam olahraga
Dalam upaya pengendalian kecemasan (anxiety) dan stress dalam olahraga penulis garis bawahi diantaranya: 1. Strategi Relaksasi, 2. Strategi kognitif, 3.teknik-teknik peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri
1. Strategi Relaksasi
Keadaan relaks adalah keadaan saat seorang atlet berada dalam kondisi emosi yang tenang, yaitu tidak bergelora atau tegang. Keadaan tidak ber¬gelora tidak berarti merendahnya gairah untuk ben-nain, melainkan dapat diatur atau dikendalikan pada titik atau daerah Z sesuai dengan hipotesis U-terbalik.
Untuk mencapai keadaan tersebut, diperlukan teknik-teknik tertentu melalui berbagai prosedur, baik aktif maupun pasif. prosedur aktif artinya kegiatan dilakukan sendiri secara aktif. Sementara itu, prosedur pasif ber¬arti seseorang dapat mengendalikan munculnya emosi yang bergelora, atau dikenal sebagai latihan autogenik.
Teknik relaksasi pertama kali dikembangkan oleh Edmund Jacobsen pada awal tahun 1930-an. Jacobsen mengemukakan bahwa seseorang yang sedang berada dalam keadaan sepenul-inya relaks tidak akan memperli¬hatkan respons emosional seperti terkejut terhadap suara keras. pada ta¬hun 1938, Jacobsen merancang suatu teknik relaksasi yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya apa yang disebut dengan Latihan Relak¬sasi progresif (Progressive Relaxation Training).
Dengan latihan relaksasi, Jacobsen percaya bahwa seseorang dapat diubah menjadi relaks pada otot-ototnya. Sekaligus juga, latihan ini me¬ngurangi reaksi emosi yang bergelora, baik pada sistem saraf pusat mau¬pun pada sistem saraf otonom. Latihan ini dapat meningkatkan perasaan segar dan sehat.
Kira-kira pada waktu yang bersamaan, seorang dokter di Jerman bernama Johannes Schultz, memperkenalkan suatu teknik pasif agar se¬seorang mampu menguasai munculnya emosi yang bergelora. Schultz menyebut latihan tersebut sebagai Latihan Autogenik (Autogenic Training). Teknik ini dapat melatih seseorang untuk melakukan sugesti diri, agar is dapat mengubah sendiri kondisi kefaalan pada tubuhnya untuk mengen¬dalikan munculnya emosi yang terlalu bergelora. Setelah diajarkan cara¬cara untuk melaksanakannya, seseorang tidak lagi tergantung pada ahli terapinya, melainkan dapat melakukannya sendiri melalui teknik sugesti diri (auto-sugestion technique). Jadi, dengan melakukan autogenic training, seorang atlet dapat mengubah sendiri kondisi kefaalannya. Ia juga dapat mengatur dan mengendalikan pemunculan emosinya pada tingkatan yang dikehendaki.
Beberapa contoh dari latihan ini adalah latihan untuk merasakan berat dan panas pada anggota gerak, dengan ungkapan, "Saya rasakan le¬ngan kanan saya berat", "saya rasakan lengan kanan saya panas dan re¬laks." Latihan pemapasan atau pengaturan aktivitas jantung dan paru¬paru, dengan contoh ungkapan, "Pemapasan saya lebih tenang dan de¬nyut jantung saya berdetak lebih lambat". Serta latihan untuk merasakan panas atau dingin pada perut clan dahi. "Da-hi dan perut saya lebih dingin." Jadi, latihan autogenik merupakan suatu latihan yang menitikberatkan munculnya kemampuan pengendalian gejolak emosi pada tubuh.
Kemudian, sekitar tahun 1950-an, seorang tokoh beraliran behavior¬istik, Joseph Wolpe, melakukan modifikasi dari teknik relaksasi milik Jacobsen. Wolpe menganggap bahwa teknik milik Jacobsen tersebut me¬makan waktu terlalu lama. Ia lalu merancang teknik yang lebih pendek, lebih sederhana, dan lebih mudah dilakukan. Teknik ini dikenal dengan narna latihan relaksasi progresif yang merupakan dasar untuk melakukan pengebalan sistematik (systematic desensitization). Teknik ini digunakan untuk menangani seseorang yang memiliki masalah ketegangan dan ke¬cemasan. Mereka yang membutuhkan dapat diajarkan untuk melakukan teknik tersebut sendiri, dengan mempergunakan alat biofeedback (EMG).
Dalam perkembangannya, teknik-teknik yang digunakan, baik oleh Jacobsen maupun Wolpe, dianggap kurang efisien. Oleh karena itu, ke¬mudian bermunculan model-model relaksasi barn sebagaimana yang di¬kemukakan oleh Bernstein & Borkovec (1973) dan Bernstein & Geffen (1984).
Dalam perkembangan selanjutnya, latihan relaksasi progresif digu¬nakan sebagai teknik tersendiri, tidak lagi sebagai bagian dari pendekatan behavioristik. Awalnya, latihan relaksasi progresif ini digunakan oleh pa¬sien penderita kecemasan atau ketegangan yang bersumber pada gejolak emosinya.Latihan relaksasi progresif juga dapat dilakukan melalui suatu alat yang dikenal dengan sebutan biofeedback atau EMG (elektromyografi). EMG memiliki fungsi mencatat atau merekam intensitas ketegangan otot¬otot seseorang, untuk kemudian ditampilkan dalam bentuk ukuran angka¬angka, misalnya +3 atau +10. Dengan menggunakan alat tersebut, sese¬orang dapat memantau tingkatan ketegangan sebelum maupun sesudah dilakukan latihan.
Dengan adanya kemampuan untuk memantau perubahan tingkatan ketegangan pada diri sendiri, maka ketegangan otot-otot dapat diatur sampai pada keadaan relaks yang dikehendaki. Arti praktisnya adalah, seseorang dapat mengatur ketegangan-ketegangan ototnya menjadi lebih relaks, sehingga gejolak emosinya pun menjadi lebih tenang. Apabila penggunaan biofeedback telah dilakukan berkali-kali, maka relaksasi dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun, tanpa membutuhkan alat biofeed¬back lagi.
Oleh karma itu, para ahli kemudian berupaya keras untuk mencari modifikasi agar latihan relaksasi progresif dapat dilakukan dalam format yang lebih pendek dan praktis. Apabila seseorang telah beberapa kali ber¬hasil dalam keadaan relaks, maka pengelompokan otot dapat diperbesar menjadi lima kelompok, yaitu:
1. Lengan dan tangan bersama-sama.
2. Semua otot muka.
3. Dada, pundak, punggung bagian atas, perut.
4. Pinggul dan pangkal paha.
5. Kaki dan tapak kaki.
Contoh lain dari modifikasi tersebut adalah teknik pernapasan atau breathing technique. Teknik ini banyak dilakukan oleh para atlet karma da¬pat dilakukan di sembarang tempat, misalnya di pinggir arena pertan¬dingan, saat menunggu waktu untuk bermain, demikian pula pada saat gejolak emosi sedang memuncak, misalnya pada malam sebelum pertan¬dingan, atau beberapa jam sebelum pertandingan.
Menurut Masters, dan kawan-kawan (1987) (dalam Gunarsa, S.D., 2002), manfaat dari melakukan latihan relaksasi progresif adalah:
1. Meningkatnya pemahaman mengenai ketegangan otot. Artinya, ada pemahaman bahwa gejolak emosi berpengaruh terhadap ketegangan otot dan sebaliknya.
2. Meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan ketegangan otot.
3. Meningkatnya kemampuan untuk mengendalikan kegiatan kognitif, yaitu meliputi kemampuan pemusatan perhatian terhadap suatu objek
4. Meningkatnya kemampuan untuk melakukan kegiatan.
5. Menurunnya ketegangan otot.
6. Menurunnya gejolak emosi karena pengaruh perubahan kefaalan.
7. Menurunnya tingkat kecemasan, serta emosi-emosi negatif lainnya.
8. Menurunnya kekhawatiran dan ketakutan.
Selain latihan relaksasi progresif, dalam melakukan perubahan atau rnodifikasi suatu perilaku, dikenal pula suatu teknik yang disebut sebagai systematic desensitization atau teknik pengebalan sistematik.
Jika terdapat suatu keadaan atau objek yang dipersepsikan tidak menguntungkan sehingga mempengaruhi gejolak emosi secara luar biasa clan ditampilkan dalam emosi tegang, maka tentu akan berakibat buruk terhadap penampilan. Seorang atlet dapat Baja merasakan ketakutan-ke¬takutan tertentu pada saat bertanding, seperti hal-hal yang berkaitan de¬ngan lawan tandingnya, suhu arena atau cuaca pada umumnya, angin, sorakan penonton, atau penilaian dari tokoh-tokoh tertentu yang sedang menyaksikan.
Namun demikian, keadaan-keadaan seperti ini merupakan hal yang mutlak harus dihadapi. Oleh karena itu, seorang atlet harus mampu menghadapi keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan sebagaimana disebutkan di atas. Kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi terse-but merupakan keterampilan individual dan khusus yang diajarkan oleh pelatih atau psikolog olahraganya.
Teknik pengebalan sistematik (systematic desensitization) merupakan latihan bertahap untuk mengurangi kepekaan terhadap suatu rangsang, sehingga terbentuk habituasi atau pembiasaan. Suatu rangsang yang awalnya menimbulkan gejolak emosi yang sangat tinggi, melalui latihan sistematik tertentu, lambat-laun tidak lagi dipersepsikan negatif. Secara bertahap, akan terjadi pengurangan atau pengenduran reaksi emosi, se¬hingga gejolak emosi pun menjadi stabil.
Jadi, sumber rangsang tidak diubah atau diganti, melainkan di dalam diri atlet terjadi perubahan secara sistematik Gejolak emosi yang pada awalnya sangat tinggi saat menghadapi suatu keadaan, lambat-laun men¬jadi berkurang. Ini merupakan prinsip sistematik desensitisasi, atau upaya untuk mengatur reaksi-reaksi emosi yang bergejolak dalam batas-batas proporsi yang wajar dan tidak merugikan.
Cara relaksasi lainnya adalah transcendental meditation atau meditasi transendental. Teknik ini merupakan relaksasi yang dikembangkan dari tradisi India, diperkenalkan di Amerika pada awal tahun 1960-an oleh se¬orang pendeta India, Maharishi Mahesh Yogi.
Keith Wallace dari UCLA merupakan salah satu psikolog pertama yang menyelicliki mengenai teknik tersebut. Penelitian Wallace (1971) me¬nunjukkan bahwa teknik tersebut memberikan efek luar biasa pada tubuh, yaitu detak jantung menurun sampai stabil clan peredaran asam laktat menjadi tiga kali lebih cepat dibandingkan saat beristirahat biasa.
Meditasi transendental merupakan teknik mental yang dapat di¬praktekkan setiap pagi dan malam selama 15 sampai 20 menit, saat sese¬orang duduk nyaman dengan mats tertutup sambil memikirkan suatu 'mantera' tertentu. Setelah 20 menit, ketegangan tubuh akan mengenclor total dan orang yang bersangkutan akan mengalami kondisi yang segar dan dinamis, percaya diri, serta siap untuk beraksi.
Meditasi transendental dilakukan seseorang dengan memusatkan perhatian dan berkonsentrasi terhadap suatu objek atau pikiran dan ke¬giatan tersebut ditahannya untuk beberapa waktu dalam posisi tubuh yang nyaman, tanpa terganggu atau teralih perhatian dan konsentrasinya. Apabila hal tersebut dapat dilakukan, maka akan diperoleh keadaan relaks.
Selama meditasi, tubuh akan mencapai tahap sadar sepenuhnya na¬mun tanpa beban pikiran apa pun. Pada kondisi tersebut, seseorang akan siap menghadapi rangsang apa pun, serta siap memberikan respons yang sesuai dan optimal.
2. Strategi Kognitif
Strategi kognitif didasari oleh pendekatan kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang. Jadi, kesalahan, kegagalan, ataupun kekecewaan, tidak disebabkan oleh objek dari luar, namun pada hakikatnya bersumber pada inti pikiran atau proses berpikir seseorang.
Misalnya, seorang atlet bulutangkis tidak dapat menyalahkan shuttle¬cock karena berat atau kecepatannya berbeda dari biasanya, karena yang menentukan sesuai atau tidaknya caranya memukul dan kekuatan pu¬kulan adalah proses berpikir atlet tersebut. Jadi, yang seharusnya diubah adalah pengendali perilaku atlet, dalam hal ini gerakan atau pukulannya, agar dapat menyesuaikan dengan keadaan khusus. Dari penjelasan ini, tampak bahwa proses kognitif merupakan sumber dari semua perilaku pada atlet.
Salah satu kegiatan yang mendukung berfungsinya proses kognitif adalah kegiatan pemusatan perhatian yang bersumber pada inti pikiran seseorang. Contohnya, pemikiran sebagai berikut: "Saga memusatkan perhatian terhadap kornitmen saya untuk bermain sesuai dengan apa yang sudah saya latih dan strategi bermain saya." Kegiatan ini merupakan ke¬giatan menginstruksi diri sendiri (self-instruction), sehingga apa pun yang akan terjadi dalam permainan, atlet akan berpedoman pada proses ber¬pikirnya.
Namun dalam kenyataannya, strategi kognitif seperti ini sangat erat kaitannya dengan status emosi dan berbagai macam pergolakannya. Per¬golakan tersebut berasal dari tingkat ketegangan yang dialami oleh atlet, khususnya yang bersumber pada dirinya, yakni trait anxiety.
3. Teknik-teknik Peredaan Ketegangan

Hanya mengetahui "apa" atau "the what"saja mengapa atlet tegang atau takut tanpa mengetahui "the how" atau "bagaimana" cara penyembuhannya tidaklah banyak man¬faatnya dan tidak akan menolong atlet. Oleh karena itu, pelatih sebaiknya juga mempersenjatai diri dengan kete¬rampilan bagaimana cara meredakan ketegangan yang ada pada atlet. Ada beberapa teknik yang bisa membantu menu¬runkan atau mengurangi ketegangan atlet (desensitizatioll, techniques). Antara lain:
a. Teknik Jacobson dan Schultz, yaitu dengan mengu¬rangi arti pentingnya pertandingan dalam benak atlet, atau mengurangi ancaman hukuman kalau atlet gagal.
b. Teknik Cratty. Dengan teknik ini, mula-mula disusun suatu urutan (hierarki) anxiety yang dialami atlet, dari Yang paling ditakuti sampai yang paling kurang ditakuti oleh atlet. Pada permulaan, atlet dihadapkan pada situ¬asi yang paling sedikit membangkitkan anxiety. Setelah atlet terbiasa dan tidak takut lagi dengan situasi terse-but, dia kemudian dilibatkan dalam situasi takut yang agak lebih berat. Demikian seterusnya.
c. Teknik progressive muscle relaxation dari Jacobson, yaitu latihan memaksa otot-otot yang tegang dijadikan relaks.
d. Teknik autogenic relaxation, yaitu toknik relaksasi Yang menekankan pada sugesti diri (self-suggestion).
e. Latihan pernapasan dalam (deep breathing).
f. Meditasi.
g. Berpikir positif.
h. Visualisasi.
i. Latihan simulasi: pada waktu latihan, berlatihlah de¬ngan menciptakan situasi seakan-akan sedang betul¬betul bertanding, dan usahakan untuk tampil sebaik¬baiknya. Lakukan latihan dengan intensitas yang tinggi seperti dalam pertandingan sebetulnya. Biarkan atlet mengalami stres fisik maupun mental.
Dengan berulang kali berlatih dengan stres yang tinggi, diharapkan lama-kelamaan ketegangan atlet akan ber¬kurang pada waktu menghadapi stres.
4. Mehanisme pertahanan diri
Anxiety, kekhawatiran, dan ketakutan yang berke¬camuk dalam diri atlet adalah gejala yang umum dalam olahraga. Anxiety dan ketakutan adalah reaksi terhadap perasaan "khawatir akan terancam pribadinya". Karena anxiety yang dialami atlet adalah sesuatu keadaan yang sangat tidal? enak dan selamanya akan berkecamuk dalam kehidupan seorang atlet, maka dibutuhkan suatu mekanis¬me di dalam kepribadiannya untuk inenolongitya inengotasi atau ineinb,-baskan dirinya dari anxiety tersebut. Mekanis¬me ini biasanya disebut security operation atau defense inechanisin. Jadi mekanisme ini berfungsi sebagai alai agar kepribadiannya tidak merasa terancam. Sering kali meka¬nisme ini bekerja demikian efektif sehingga atlet benar¬benar terlindung dari perasaan cemas tersebut.
Tampaknya di semua cabang olahraga sering terjadi mekanisme pertahanan demikian, bukan hanya oleh atlet, akan tetapi juga oleh pelatih, tim manajer, pengurus dan lain-lain.
Memang mungkin saja alasan yang dikemukakan atlet, pelatih, Tim Manajer, Pengurus, KONI, dan lain-lain me¬mang betul karena lapangan licin, bola tidak bundar, banyak angin, penonton ribut. Akan tetapi kebanyakan alasannya tidak rasional dan hanya merupakan manifestasi dari pera¬saan kecewa karena mengalami kegagalan, serta kedok agar terhindar dari perasaan cemas dan takut akan dikritik, di-cemooh, dikecam oleh masyarakat, dan agar mereka tidak disalahkan oleh masyarakat atas kekalahan atau kegagalan mereka. Karena itu penyebab kegagalannya dilimpahkan kepada orang atau benda lain di luar dirinya.
Sebagai pelatih, kita harus mendidik dan melatih para atlet agar tidak membiasakan diri menggunakan defense inechanisin yang tidak wajar sebagaimana contoh-contoh tersebut di atas. Sebab-sebab dari setiap kegagalan haruslah didiskusikan, dievaluasi, dianalisis secara rasional, intelek¬tual dan inteligen. Pelatih harus mengajarkan dan mendidik atlet agar tidak meremehkan kegagalan, dan menilai setiap kegagalan dengan penuh pemahaman dan pengertian yang wajar. Dengan demikian dapatlah diharapkan pula bahwa maturitas mental para atlet sedikit demi sedikit dapat dikembangkan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka penulis dapat simpulkan antara lain :
1. bahwa (a) atlet harus dilatih agar tingkat Kecemasan, stress dan ketegangannya makin lama makin rendah (tapi jangan hilang sama sekali), dan (b) ambisinya untuk menang semakin ditingkatkan.
2. Menjadi semakin penting untuk memberikan latihan-latihan peredaan kecemasan, stress dan ketegangan kepada atlet-atlet atau anak didik.
3. petunjuk-petunjuk peredaan Anxiety dan kecemasan akan efektif apabila diberikan pada saat-saat men¬jelang permulaan dan akhir pertandingan.

B. Saran
Membahas tentang anxiety dan stress dalam olahraga serta pengendaliannya maka ada beberapa saran yang dapat digaris bawahi dalam makalah ini antara lain :
1. Didalam memahami anxiety dan stress dalam olahraga serta pengendaliannya diharapkan setiap individu mampu dan memahami tentang anxiety dan stress dalam olahraga serta pengendaliannya. Pada hakikatnya setiap individu diharapkan mampu memahami anxiety dan stress dalam olahraga serta pengendaliannya ini, yakni keluarga pendidik dan penentu kebijakan yang berkepentingan didalamnya sebagai tempat atau wadah pengembang pendidikan agar menjadi lebih luas dalam perkembanganan pendidikan terutama perkembangan psikologi olahraga dalam pendidikan jasmani dan olahraga.
2. anxiety dan stress dalam olahraga serta pengendaliannya tidak dapat dipisahkan karena ketiganya saling mempengaruhi didalam meningkatkan dan mengembangkan prestasi atlet.



Daftar Pustaka
Bakker, F.C., Whiting, "I.T.A., & Van der Brug. (1990). Sport psychology, concepts and applications. New York: John Wiley & Sons.

Cratty, B.J. (1973). Psychology in contemporary sport. New York: Prentice Hall, Inc.

Eberspacher, H. (1982). Sportpsychologie, Grundlagen, Methoden, Analysers. Rowohlt: Reinbek.

Harsono. (1988). Coaching dan aspek-aspeh psihologis
dalam coaching. Jakarta: C.V. Tambak Kusuma.

Harsono. (1990). Metode Mengajarkan Keterampilan Olah¬raga. Lokaharya Pendidihan Berpihir, IKIP Ban¬dung. Makalah.

Loehr, J.E. (1986). Mental toughness training for sports., New York: A Plume Book.

McKinney, R. (1988). Archery. Tokyo: Sakamoto Kikaku¬shitsu.

Oxendine, J.B. (1968). Psychology of motor learning. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Vanek, M. & Cratty, B.J. (1970). Psychology of the supe¬rior athlete. London: The Macmillan Company.

Weinberg, R.S. (1988). The mental advantage. Cham¬paign, Illinois: Leisure Press.

Andersen, M.B. (2000). Doing sport psychology (Edit.). Champain IL.: Human Kinetics.

Bunker, L.K., Rutella, R.J. & Reilly, A.S. (1985)..Sport Psychology. Michigan: McHaughton & Gunn Inc.

Cardinell, C. (1980). Teacher burnout: An analysis. Action inTeacher Educa-tion.2 (4).

Cox, R.H. (1985). Sport Psychology. Iowa: Wm.C. Brown Publ.
Cox, R.H. (1994). Sport Psychology: Concepts and applications. Dubuque, IA: Brown & Benchmark.

Cratty, B.J. (1989). Psychology in Contemporary Sport. NJ: Prentice Hall, Englewood, Cliffs.

Fisher, A.C. (1976). Psychology of Sport. Palo Alto: Mayfield Publ. Co.

Fixx, J.F. (1985). Maximum Sports Performance. New York: Random House. Freudenberger, H.J. (1974). Staff burnout. Journal of Social Issues. 30 (1). Gould, D. (1988). Sport psychology: Future directions in youth sport re search. In F.L. Smolt, R.A. Magill, & M.J. Ash (Eds.), Children in Sport (3" ed.). Champain IL: Human Kinetics.

Goffi, C. (1984). Tournament Tough. London: Ebury Press.

Gunarsa, S.D. (1990). Psikologi Olahraga. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Gunarsa, S.D., Satiadarma, M.P. & Soekasah, M.H.R. (1996): Psikologi Olah¬raga: Teori dan Praktik. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, S.D. (2(XX)). "Sumbangan Psikologi bagi Dunia Olahraga", Dalam Supratiknya, Faturrochman & Haryanto S.: Tantangan Psikologi Menghadapi Milenluin Baru. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Psikologi UGM.

Gunarsa, S.D. (2000). Psikologi Olahraga dan Penerapannya untuk Bulutangkis. Jakarta: UPT. Penerbitan, UNTAR.

Haag, H. (1986). "Comparative sport pedagogy - comparative education: a basic interrelationship within educational sciences", dalam: Krotee, M.L. & Jaeger, E.M. (1986). Comparative Physical Education and Sport. Vol. 3.

Heil, J. (Ed.). (1993). Psychology of Sport Injury. Champain IL: Human Kine-tics.
Hellstedt, J.C. (1987). "Sport psychology at the ski academy. Teaching mental skills to young athletes", The Sport Psychologist, 1, 56-68.

Kroll, W. & Gunderscheirn, J. (1982). Stress factors in coaching. Coaching Science Update. 47-49.

Kubler-Ross, E. (1969). On Death and Dying. New York: Mcmillan.
Loehr, J.L. (1994). The New Toughness Training for Sports. New York: Penguin Books.

Martens, R. (1987). Coaches Guide to Sport Psychology. Champain IL: Human Kinetics Publ.

Martens, R., Vealy, R.S. & Burton, D. (1990). Competitive Anxiety in Sport. Champain IL: Human Kinetics.

Maslach, C. (1978). The client role in staff burnout. Journal of Social Issues. (34).

Murphy, S.M. (Ed.). (1995). Sport Psychology Interventions. Champain IL: Human Kinetics.

Nideffer, R.M. (1985). Athletes' Guide to Mental Training. Champain IL: Hu-man Kinetics.

Nideffer, R.M. (1992). Psych to Win. Champain IL: Human Kinetics.

Orlick, T. (1986). Psyching for Sport: Mental Training for Athletes. Champain IL: Human Kinetics.

Orlick, T. & Partington, J. (1989). Psych: Inner Views of Winning. Ottawa, Canada: Coaching Association of Canada.

Orlick, T. (1990). In pursuit of excellence. Champain IL: Leisure Press.

Orlick, T., Zitzelberger, L., Li-Wei, Z. & Qi-wei, M. (1992). "The effect of mental-imagery training on performance enhancement with 7-10 year-old children", The Sport Psychologist, 6,230-241.

Porter, K. & Foster, J. (1986). The Mental Athlete. Dubuque, Iowa: WM C. Brown Publ.

Satiadarma, M.P. (2000). Dasar-dasar Psikologi Olahraga. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Schurr, K.T., Ashley, M.A. & Joy, K.L. (1977). "A multivariate analysis of male athlete characteristics: Sport type and success", Multivariate Ex-perimental Clinical Research, 3, 54-68.

Singer, R.N. (1984). Sustaining Motivation in Sport. Tallahassee, Florida: Sport Consultants International, Inc.

Singer, R.N. (1986). Peak Performance and More. Ithaca, New York: Mouve-ment Publ. Inc.

Spielberger, C.D. (1966b). Anxiety and Behavior. New York: Academic Press. Spielberger, C.D. (1972). Anxiety: Current Trends in Theory and Research. New York: Academic Press.

Straub, W.F. (1980). Art of Athlete Behavior. Ithaca, New York:
Mouvement, Publ. Inc.

Suinn, R. (1990). Psychological Techniques for Individual Performance. New York: Macmillan.

Unestahl, L.E. (1986). Contemporary Sport Psychology. Orebro: Veje Publ. Inc.

Wallace, K. (1971). Dalam: Kanellakos, C. Transcendental meditation ... what's it all about. Dalam: Fisher, A.C. (1978). Psychology of sport. Palo Alto: Mayfield Publ. Co.

Warren, W. (1983). Coaching and Motivation Englewood Cliffs: Prentice-Hall. Weinberg, R.S. & Gould, D. (1995). Foundations of Sport and Exercise Psycho¬logy. Champain IL: Human Kinetics.

William, J.M. (Ed.). (1998). Applied Sport Psychology: Personal Growth to Peak Performance( ed.). Mountain View, CA: Mayfield.